Research Center for Biobased Chemical Product merupakan nama kelompok riset Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Jember. Research Center for Biobased Chemical Product mempunyai visi dan misi yang dapat menampung segala bentuk keahlian dari masing-masing dosen dalam naungan Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Jember. Visi dan misi
tersebut kami jabarkan sebagai berikut:

VISI
Menjadi kelompok riset yang berfokus pada valorisasi hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan implementasi ilmu teknik/rekayasa kimia yang ramah lingkungan untuk mendapatkan produk dan atau teknologi unggulan yang feasible, berkualitas, dan mempunyai daya saing global.

MISI
Mengembangkan penelitian yang dapat menghasilkan produk dan atau teknologi yang feasible, berkualitas, dan ramah lingkungan berbasis pada bioproses, simulasi program, material, dan energi yang bersumber dari produk hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh para dosen Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Jember. Hal ini untuk meningkatkan kualitas Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Jember secara khusus ataupun Universitas Jember secara umum. Penelitian juga dapat memberikan dampak yang baik untuk perkembangan ilmu pengetahuan
dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kelompok riset Research Center for Biobased Chemical Product terdiri dari semua dosen dalam naungan Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Jember. Dalam tugasnya, masing-masing dosen memiliki jabatan dan tugas masing-masing yang bertanggung jawab terhadap segala bentuk kegiatan penelitian ataupun kegiatan lain yang menunjang penelitian sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal dalam melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan.

ROADMAP

Fase 2017–2019: Eksplorasi Biomassa dan Teknologi Ekstraksi
Pada periode awal ini, kegiatan riset didominasi oleh penelitian pada ekstraksi senyawa bioaktif dari berbagai sumber biomassa lokal, seperti propolis lebah Trigona sp., alga laut (Sargassum sp., Ulva sp.), kulit kakao, kopi, dan tembakau. Teknologi proses yang dikembangkan berfokus pada intensifikasi proses hijau, meliputi microwave-assisted extraction, ultrasound-assisted extraction, dan supercritical extraction. Fase ini memiliki makna strategis sebagai fondasi keahlian kelompok riset, khususnya dalam bidang extraction and separation process, serta menjadi dasar pengembangan riset menuju biobased chemicals dan green processing. Pada periode ini, kegiatan pengabdian masyarakat masih sangat terbatas, menandakan fokus utama pada pembentukan basis ilmiah dan kompetensi riset.

Fase 2020–2021: Konversi Energi dan Bioproduk
Memasuki periode 2020–2021, terjadi pergeseran yang signifikan dari riset ekstraksi menuju konversi biomassa menjadi energi dan material. Topik-topik utama yang berkembang mencakup produksi bioetanol dan biobutanol dari kakao dan tembakau, biohidrogen dari ampas tebu dan limbah pertanian, serta pengembangan bioplastik, edible film, dan membran berbasis biomassa. Pada fase ini mulai terlihat terbentuknya research lineage yang jelas, yaitu biomassa menjadi energi terbarukan atau material fungsional, serta mulai diintegrasikannya konsep zero waste dan Sustainable Development Goals(SDGs). Selain itu, kegiatan pengabdian masyarakat mulai berkembang melalui penerapan teknologi tepat guna (TTG) di bidang energi dan lingkungan.

Fase 2022–2023: Biorefinery, Material Fungsional, dan Lingkungan
Periode 2022–2023 ditandai dengan penguatan pendekatan biorefinery berbasis biomassa laut, khususnya Ulva sp., yang dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk seperti biopolimer (ulvan), protein, bioetanol, dan senyawa fitokimia. Pada fase ini juga muncul pengembangan material canggih, antara lain nanokomposit, biosorben magnetik, dan sensor fluoresensi. Aplikasi penelitian semakin diarahkan pada penanganan permasalahan lingkungan, termasuk remediasi limbah elektroplating, industri batik, dan air limbah. Secara strategis, fase ini menunjukkan peralihan dari riset berbasis produk tunggal menuju biorefinery multi-produk, sekaligus memperkuat keahlian kelompok riset pada bidang material berbasis biomassa dan teknologi lingkungan.

Fase 2024–2025: Integrasi Material, Lingkungan, dan Industri
Pada periode 2024–2025, roadmap historis menunjukkan bahwa skala dan kompleksitas riset semakin matang. Hal ini tercermin dari meningkatnya kerja sama internasional, keterlibatan dalam inovasi industri dan program MBKM, serta fokus pada produk-produk yang lebih siap dihilirisasi, seperti bioplastik, biosorben, activated carbon, dan membran komposit. Selain itu, pengabdian masyarakat semakin terintegrasi dengan konsep circular economy dan teknologi air bersih, menunjukkan sinergi yang kuat antara penelitian dan implementasi di masyarakat. Secara strategis, fase ini menandai awal riset yang mendekati hilirisasi teknologi dengan tingkat kesiapan teknologi menengah (TKT 4–5), serta terbentuknya ekosistem riset biobased material–environmental application.

Sintesis Historis
Secara keseluruhan, Gambar 1 memperlihatkan bahwa perkembangan Keris Biobased Chemical Product berlangsung secara evolutif dan berkesinambungan, dengan arah yang semakin jelas menuju pengembangan produk kimia berbasis biomassa, material fungsional, dan sistem terintegrasi. Roadmap historis ini menjadi landasan yang kuat untuk merancang roadmap lanjutan (2026–2030 dan seterusnya), yang difokuskan pada advanced materials, integrasi sistem, dan hilirisasi produk berbasis biomassa.

Gambar 1. History Roadmap Keris Biobased Chemical Product untuk tahun 2017 – 2025.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biomassa, material kimia, dan energi berkelanjutan berlangsung secara sangat dinamis dan cepat. Inovasi baru dalam teknologi proses, material maju, serta kebutuhan industri dan masyarakat menuntut adanya roadmap penelitian yang adaptif dan responsif, bukan bersifat statis. Oleh karena itu, Roadmap Keris Biobased Chemical Product tahun 2026–2038 disusun dengan mempertimbangkan fleksibilitas ilmiah untuk mengakomodasi perubahan arah riset yang dipicu oleh kemajuan ilmu pengetahuan, kebijakan nasional, dan kebutuhan global.

Perubahan Paradigma Riset: dari Produk Tunggal ke Sistem Terintegrasi
Pada periode awal pengembangan (2017–2021), riset cenderung berfokus pada pengembangan produk atau proses secara terpisah, seperti ekstraksi senyawa bioaktif atau produksi biofuel tertentu. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan ini mengalami pergeseran menuju konsep sistem terintegrasi, misalnya integrasi biorefinery multi-produk, material fungsional, dan aplikasi lingkungan. Roadmap terbaru mengakomodasi perubahan paradigma ini dengan menempatkan system integration dan techno-economic analysis sebagai komponen utama mulai tahun 2029 dan seterusnya.

Respon terhadap Kemunculan Teknologi dan Material Baru
Kemajuan pesat dalam bidang material karbon lanjut, nanoteknologi, dan material penyimpanan energi (termasuk hydrogen storage) mendorong penyesuaian fokus riset dalam roadmap. Topik-topik yang sebelumnya belum dominan, seperti porous carbon untuk penyimpanan hidrogen, komposit biochar–logam, dan membran fungsional, kini diintegrasikan secara eksplisit dalam roadmap 2026–2038. Hal ini menunjukkan bahwa roadmap dirancang untuk mengadopsi teknologi baru yang relevan, tanpa meninggalkan keahlian inti yang telah dibangun sebelumnya.

Antisipasi Kebutuhan Industri dan Kebijakan Energi–Lingkungan
Perubahan roadmap juga dipengaruhi oleh meningkatnya tuntutan industri terhadap teknologi rendah karbon, energi terbarukan, dan ekonomi sirkular, serta kebijakan nasional dan global terkait transisi energi dan keberlanjutan. Oleh karena itu, roadmap ini mengakomodasi kebutuhan tersebut dengan memperkuat fase pilot scale, kemitraan industri, dan hilirisasi, khususnya pada periode 2031–2038. Pendekatan ini memungkinkan hasil riset untuk tetap relevan dan memiliki dampak nyata di tengah perubahan kebutuhan pasar dan regulasi.

Fleksibilitas Roadmap sebagai Living Document
Roadmap Keris Biobased Chemical Product dirancang sebagai dokumen hidup (living document), yang dapat diperbarui secara berkala berdasarkan capaian riset, evaluasi TKT, dan perkembangan ilmu pengetahuan terbaru. Setiap fase dalam roadmap memiliki ruang untuk penyesuaian topik, metode, dan luaran, selama tetap berada dalam koridor tema besar biobased chemical products dan advanced materials. Dengan demikian, roadmap ini tidak membatasi inovasi, melainkan menyediakan kerangka strategis yang mampu menampung ide dan teknologi baru.

Implikasi Strategis terhadap Keberlanjutan Riset
Kemampuan roadmap untuk beradaptasi terhadap dinamika keilmuan memastikan keberlanjutan riset dalam jangka panjang. Penyesuaian fokus dari riset dasar menuju material maju, integrasi sistem, dan hilirisasi tidak hanya mencerminkan kematangan keilmuan, tetapi juga kesiapan kelompok riset dalam menjawab tantangan masa depan. Dengan pendekatan ini, roadmap 2026–2038 diharapkan mampu menjaga relevansi ilmiah, daya saing nasional, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.

Oleh karena hal tersebut, Gambar 2 menampilkan roadmap pengembangan riset Keris Biobased Chemical Product untuk periode 2026–2038 yang disusun sebagai kelanjutan langsung dari roadmap historis tahun 2017–2025. Roadmap ini dirancang untuk mengarahkan transformasi riset dari tahap konsolidasi keilmuan menuju pengembangan material maju, integrasi sistem, dan hilirisasi teknologi berbasis biomassa, dengan target peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari level 2 hingga level 8. Pada fase awal roadmap lanjutan ini, fokus utama diarahkan pada konsolidasi hasil riset sebelumnya serta penguatan pengembangan material berbasis biomassa yang memiliki relevansi langsung dengan sektor energi, lingkungan, dan industri. Biomassa yang digunakan tetap berlandaskan pada biomassa tapal kuda sebagai keunggulan lokal, dengan pemanfaatan untuk produk bahan bakar, bahan kimia, material karbon, serta precursor material berpori dan nano.

Pada tahun 2026, kegiatan penelitian difokuskan pada karakterisasi fisik–kimia biomassa dan pemetaan jalur konversi menuju produk fuel–chemical–material. Tahun 2027 dilanjutkan dengan pengembangan dan evaluasi berbagai metode konversi biomassa, meliputi thermochemical, biological, dan electrochemical conversion, disertai analisis yield serta efisiensi proses. Pada periode 2028, riset diarahkan pada rekayasa struktur dan fungsi material, serta optimasi proses untuk menghasilkan produk bernilai tambah seperti fine chemicals, material penyimpanan hidrogen, komposit biochar–logam (Fe, Ni, Mg), nano-carbon, hard carbon, slow-release fertilizer, dan membran berbasis biochar–polimer. Selanjutnya, pada tahun 2029–2030, fokus utama bergeser ke integrasi sistem dan pengembangan prototipe, termasuk energy device prototype, hydrogen storage system, serta aplikasi lingkungan dan industri kimia. Pada akhir fase ini, roadmap menargetkan capaian TKT 5–6, yaitu prototipe yang telah tervalidasi pada lingkungan relevan.

Fase berikutnya menandai pergeseran riset dari skala laboratorium menuju pilot scale melalui pembentukan konsorsium riset dan kemitraan industri. Pada tahap ini, biomassa tapal kuda tetap menjadi sumber utama, namun riset difokuskan pada validasi teknologi dalam skala lebih besar, integrasi dengan kebutuhan industri, serta penyelarasan dengan standar teknis dan ekonomi. Produk-produk yang dikembangkan meliputi prototipe perangkat energi, sistem penyimpanan hidrogen, serta aplikasi lingkungan yang siap diuji dalam konteks industri dan sektor energi. Keterlibatan mitra industri dan institusi eksternal menjadi kunci utama dalam fase ini, sehingga penelitian tidak hanya berorientasi pada kinerja teknis, tetapi juga pada kelayakan ekonomi dan keberlanjutan implementasi. Target kesiapan teknologi pada fase ini adalah TKT 7.

Pada fase akhir roadmap, fokus diarahkan pada hilirisasi hasil riset dan pembentukan Center of Excellence (CoE) Biobased Materials. Produk-produk yang telah tervalidasi pada fase sebelumnya mulai diarahkan menuju produk komersial terbatas, pengembangan spin-off atau inkubasi bisnis, serta penguatan posisi Keris Biobased Chemical Product sebagai pusat unggulan nasional di bidang material kimia berbasis biomassa. Produk yang dihasilkan pada fase ini mencakup energy device prototype, sistem penyimpanan hidrogen, serta aplikasi lingkungan dan industri kimia yang telah terintegrasi secara menyeluruh. Dengan capaian ini, roadmap menargetkan TKT 8, yang menunjukkan kesiapan teknologi mendekati tahap komersialisasi dan adopsi luas oleh pengguna.

Gambar 2. Roadmap Keris Biobased Chemical Product untuk tahun 2026 – 2038.

SUSUNAN PERSONALIA KERIS BIOBASED CHEMICAL PRODUCT

STRUKTUR ORGANISASI KERIS-DIMAS BIOBASED CHEMICAL PRODUCTS
STRUKTUR ORGANISASI KERIS-DIMAS BIOBASED CHEMICAL PRODUCTS

DOKUMENTASI KEGIATAN KERIS-DIMAS

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2025)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2024)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2023)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2022)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2021)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2020)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2019)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2018)

Hibah Keris Biobased Chemical Product (2017)