Jember, 6 Agustus 2026 – Program Teknik Kimia Mengabdi (TEKKMENG) kembali digelar pada tahun 2026, melanjutkan kegiatan tahun sebelumnya dengan fokus menghadirkan solusi bagi pertanian lokal yang berkelanjutan. Kolaborasi antara Program Studi S1 Teknik Kimia, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEKK) Universitas Jember, dosen, dan mahasiswa ini menyasar Desa Sukorambi, Kabupaten Jember, dengan tujuan membantu warga mengatasi masalah pengelolaan limbah pertanian. Selain menawarkan inovasi berbasis sains dan teknologi, program ini juga bertujuan menumbuhkan kesadaran warga desa akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar.
Dua Inovasi dari Limbah
Mengangkat tema “Pengolahan Limbah Kulit Kopi dan Sayur Menjadi Biopestisida dan POC: Inovasi Alternatif Pertanian Berkelanjutan”, program ini dilatarbelakangi oleh posisi Desa Sukorambi sebagai salah satu penghasil sayur dan kopi terbesar di Jember. Di sisi lain, volume limbah seperti kulit bawang merah, sawi, bayam, dan kulit kopi terus menumpuk. Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk mengolah limbah kulit kopi, bawang merah, dan cabai menjadi biopestisida, serta limbah sayuran menjadi Pupuk Organik Cair (POC).
Tim TEKKMENG 2026 juga merancang dua alat sederhana untuk mendukung produksi kedua produk tersebut: “biofermentor” untuk membuat POC dan “biomaserator” untuk membuat biopestisida. Kedua alat ini dirancang agar dapat langsung dimanfaatkan warga untuk produksi dalam skala menengah ke atas.
Ketua pelaksana, Jodi Armansyah, menjelaskan bahwa alat tersebut dibuat dari drum berkapasitas 200 dan 150 liter dengan desain yang sengaja dibuat sederhana supaya mudah ditiru oleh warga. Menurutnya, sekali proses produksi, biofermentor mampu menghasilkan 60–80 liter POC atau setara 22 jeriken ukuran 4 liter, sementara biomaserator dapat menampung 30–40 liter biopestisida.
Dari Pertanian untuk Pertanian
Program ini mendapat sambutan positif dari warga desa, khususnya dari kelompok tani dan kelompok wanita tani setempat. Ketua Kelompok Wanita Tani, Fitri Nurhayati, mengungkapkan bahwa warga sebenarnya pernah mencoba membuat POC sendiri, namun belum memahami cara mengenali apakah POC tersebut sudah siap digunakan atau belum. Ia berharap program ini bisa menjawab kebingungan tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi pembuatan POC dan biopestisida, dilanjutkan dengan pemantauan yang dilakukan secara berkala. Melalui pendekatan ini, para petani diharapkan memperoleh keterampilan baru sekaligus terdorong untuk terus berinovasi demi lingkungan pertanian yang lebih baik.
Dengan semangat “Dari Pertanian untuk Pertanian”, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa melalui inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, mendukung kepedulian lingkungan, sekaligus turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).