Tongkol Jagung Disulap Menjadi Bahan Plastik Ramah Lingkungan

Oleh: Siti Aisyah

Jagung merupakan komoditas pangan sekunder yang menjadi penyangga dan pelengkap komoditas pangan utama yakni padi. Berdasarkan statistik produksi tanaman pangan Indonesia tahun 2010-2014, produksi jagung rata-rata 18.483.727 ton/tahun. Jagung saat ini merupakan komoditas strategis kedua di beberapa daerah karena menjadi bahan makanan pokok. Jawa Timur merupakan sentra produksi jagung terbesar dengan luas areal 1.270.388 ha atau 26,88% luas areal keseluruhan produksi jagung Nasional (Departemen Pertanian, 2013). Bahkan menurut data BPS Provinsi Jawa Timur tahun 2017, diperoleh data bahwa usaha tani jagung menyebar di beberapa wilayah kabupaten, salah satunya Kabupaten Jember sebanyak 471.285 ton. Wilayah di Kabupaten Jember yang merupakan penghasil tanaman jagung, salah satunya yakni Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono. Di Desa Dawuhan Mangli, jagung menjadi salah satu sumber daya pertanian yang sangat berpotensi namun belum optimal diberdayakan. Hingga saat ini, jagung hasil pertanian desa hanya sekedar diperjual belikan dalam bentuk jagung mentah. Selain itu, pemanfaatan yang ada masih terbatas, misalnya batang dan daun jagung banyak digunakan sebagai pakan ternak serta biji jagung dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan untuk manusia dan pakan ternak. Padahal hampir semua bagian jagung bisa dimanfaatkan, baik itu bagian batang, daun, kulit, biji jagung dan bonggol atau tongkol jagung. Tongkol jagung menjadi sampah atau limbah, yang oleh penduduk desa dibuang begitu saja. Padahal tongkol jagung bisa dikelola dan dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna lebih tinggi yakni sebagai bahan bioplastik atau plastik biodegradable. Pada dasarnya tongkol jagung banyak mengandung bahan selulosa yang bermanfaat untuk membuat senyawa kimia pada bahan plastik. Dalam tongkol jagung banyak mengandung beberapa senyawa selulosa yang bisa mengikat kimia plastik dengan baik. Ide untuk menggantikan bahan selulosa plastik dengan tongkol jagung sangat baik karena bisa menjadi bahan plastik yang ramah terhadap lingkungan.

Melalui Hibah Program Pengembangan Desa Binaan, salah satu Dosen Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia yakni Ari Susanti, S.T., M.T. menginisiasi pembuatan biodegradable plastic dari tongkol jagung bersama rekan-rekan dosen lain, antara lain Sartika Dwi Purwandari, S.Si., M.Eng., M.T. (Dosen Prodi Perminyakan FT UNEJ), Rendra Suprobo Aji, S.T., M.T. (Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota FT UNEJ), serta Fanteri Aji Dharma Suparno, S.T., M.S. (Dosen Prodi Pertambangan FT UNEJ) di Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono. Selain bersama rekan dosen, dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan, tim ini dibantu oleh 3 mahasiswa yang merupakan mahasiswa Program Studi S1 Rekayasa/Teknik Kimia angkatan 2017 antara lain Ardetha Titania Aurly, Ayu Ulum Rahmawati, dan Listia Baqih Arie Prayoga. Program ini dilaksanakan multiyears (2019-2020). Untuk tahun 2019 diadakan selama 3 kali, yang mana pesertanya adalah ibu-ibu rumah tangga usia produktif. Melalui program ini, diharapkan dapat terbentuk komunitas yang bisa menghasilkan produk untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian warga Desa Dawuhan Mangli. Program ini didukung oleh LP2M UNEJ dan diberikan dukungan penuh oleh pemerintah desa setempat melalui program desa BUMDes yang rencananya akan dijadikan usaha desa. Melalui PJ Desa Dawuhan Mangli, M. Husen, bentuk keseriusan desa ditunjukkan dengan menyediakan lahan seluas 84 m2 untuk lokasi usaha. Para ibu peserta program pengembangan desa binaan sangat antusias dan mengharapkan program ini benar-benar bisa terwujud hingga tahap produksi agar bisa membantu meningkatkan perekonomian warga serta menjadikan Desa Dawuhan Mangli sebagai sentra produksi biodegradable plastic ramah lingkungan pertama di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *